Selama beberapa hari setelah acara kencan kecil romantis mereka berdua, Arkan tidak muncul lagi di rumah sakit. Mau tidak mau, karena terlalu lama menghabiskan waktu bersama Casilda, superstar galak itu harus segera menyelesaikan beberapa pekerjaannya meski tampak tidak rela.
“Orang kaya memang beda. Masuk rumah sakit sudah mirip masuk ke hotel berbintang,” gerutu Casilda malas di hari Sabtu siang itu, sibuk mengunyah keripik kentangnya sambil menonton drama mini web series suaminya yang baru saja tayang sejak kemarin siang.
Meskipun Casilda sebenarnya sudah bisa pulang dan tidak ada masalah dengan kesehatannya, Arkan masih menyuruhnya berada di sana sampai masa datang bulannya benar-benar selesai, dan juga setelah dokter yang bertanggung jawab memberikan laporan memuaskan kepadanya di hari Senin nanti.
“Selama pagi, Casilda!” sapa dokter Ken, mengetuk pintu perlahan dan memperlihatkan senyum bodohnya dari balik pintu.
“Dokter Ken?” ujar Casilda terkejut, lalu keningnya berkerut dalam. “Sekarang sudah siang, bukan pagi lagi.”
Dokter Ken terkekeh pelan, lalu berjalan mendekat sambil menyerahkan tas kertas ke arahnya. “Sesuai janjiku. Aku membawakan sisa kelanjutan buku komik itu. Kamu boleh kembalikan kapan saja sesuka hati. Tidak dikembalikan, juga tidak apa-apa.”
Casilda seketika senang melihat buku-buku komik baru kesukaannya. “Terima kasih, dokter Ken! Saya pasti akan mengembalikannya!”
Dengan cepat, dia meraih tas kertas itu dan memeriksa isinya. Matanya berbinar-binar cerah melihat kumpulan buku komik tersebut.
Ken duduk di sofa tunggal dengan senyum puas. Tiba-tiba mengomentarinya pelan. “Pasti sangat menyusahkan punya suami seperti Arkan, bukan?”
Casilda terdiam sebentar, lalu melirik ke arah layar TV ketika sang suami sedang sibuk beradu akting dengan pemeran utama wanita.
Ken mengikuti arah pandangnya. “Aku pikir kamu tidak akan menontonnya. Kamu sungguh tidak cemburu, ya?”
“Untuk apa saya cemburu? Itu, kan, pekerjaannya.”
Ken terkekeh mendengar nada suaranya yang tidak stabil. “Benarkah? Tapi, kenapa suaramu terdengar sedih?”
“Si-siapa yang sedih? Untuk apa saya sedih?”
Ken tersenyum lebar, menatapnya lekat-lekat. “Kamu sudah melihat berita terbaru mengenai model wanita itu?”
Casilda mengangguk pelan. “Saya hanya tidak menyangka dia akan melakukan percobaan bunuh diri karena mendapat tekanan di mana-mana.”
“Aku rasa itu adalah hal yang wajar. Dosanya kepada Arkan sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia memfitnahnya telah membuatnya hamil? Jelas saja hal itu membuat semua penggemar Arkan dan Lisa sangat marah dan meledak gila di internet. Aku dengar, bahkan alamat rumah dan nomor teleponnya bocor ke publik. Beberapa orang bahkan menerornya sangat jahat dan menyumpahinya mati. Keluarganya di desa juga tidak luput dari amukan orang-orang yang marah. Tidak heran dia sampai seperti itu.
Tapi, aku jelas tidak setuju dengan tindakannya yang ingin bunuh diri. Benar-benar pengecut dan tidak bertanggung jawab setelah semua kekacauan yang dibuatnya sendiri, bukan?
Untung saja seorang tetangga melihatnya dari jendela kamarnya. Memotong nadi adalah hal yang menyakitkan untuk dilakukan sendirian. Aku tidak habis pikir kenapa ada manusia yang memilih cara untuk mati dengan metode itu. Bukankah melompat dari gedung lebih mudah dan efisien? Tidak. Itu bahkan akan merepotkan banyak orang untuk membereskan kekacauan yang ada.”
“Dokter Ken!” tegur Casilda kesal, tidak senang melihatnya tertawa dengan leluconnya barusan terkait orang yang baru saja melakukan percobaan bunuh diri.
Ken tersenyum kecil, menegakkan punggung dengan ekspresi lebih serius.
“Kamu lihat wanita itu, kan? Hal yang menimpanya, bisa saja terjadi kepadamu suatu hari nanti. Tekanan netizen yang ada di luar sana sangat buruk jika sampai mereka tahu kamu adalah istri rahasia Arkan, dan telah menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. Simpati untuk Lisa pasti akan lebih banyak berdatangan daripada skandal model wanita itu. Kamu bisa menjadi sasaran yang lebih buruk, Casilda.
Walaupun kamu berkata kamu kuat dan masa bodoh, atau pun menjelaskan segalanya dengan baik, apakah kamu benar-benar sanggup menjalaninya? Kita tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain. Akan selalu ada orang buruk dan jahat di luar sana yang akan terus menyakiti kita dengan banyak alasan yang tidak masuk akal. Kamu sudah mempertimbangkan hal yang aku katakan dulu kepadamu?”
Casilda diam cukup lama, menatap setengah hampa layar TV dengan tampilan suaminya yang tengah memeluk pemeran utama wanita di web series tersebut.
Apakah dia akan tahan?
Casilda juga tidak yakin. Ketika dia dipermalukan oleh Arkan di pesta topeng, dia memang merasa ingin mati karena malu dan sangat lelah dipermainkan oleh banyak orang. Namun, itu berlalu dengan cepat bagaikan mimpi buruk yang tidak mau diingatnya lagi.
Jika model wanita yang telah menjebak Arkan sampai nekat melakukan aksi bunuh diri, bukankah itu artinya tekanan mental yang diterimanya lebih parah daripada dirinya?
“Casilda, aku hanya menyayangkan kamu berada di sisi Arkan seperti ini. Kamu bisa mendapatkan banyak hal bagus jika lepas darinya. Apakah kamu tidak bersedia bercerai dengannya? Kamu sungguh-sungguh jatuh cinta kepadanya yang kasar itu? Atau hanya karena merasa sayang dengan wajah tampannya yang digilai oleh banyak wanita?”
“Tidak. Bukan begitu, dokter Ken,” gumam Casilda pelan, setengah berbisik dengan kepala menunduk lemah. “Pernikahan kami tidak sesederhana itu. Saya harap, Anda bisa merahasiakan hal ini kepada semua orang. Saya juga tidak ada niat untuk menyaikiti siapa pun, tapi masalahnya tidak semudah yang Anda katakan. Saya tidak bisa menjelaskannya lebih jauh lagi.”
“Aku hanya peduli kepadamu, Casilda. Kamu mengerti, kan? Arkan sangat egois jika dia menginginkan sesuatu selama ini, dan dia bahkan tidak peduli meski hal itu hancur sekalipun di tengah jalan. Aku tahu persis bagaimana sifatnya selama bertahun-tahun sebagai teman dekatnya. Dia tidak cukup baik untukmu sebagai seorang suami. Aku mengatakannya demi kebaikanmu sendiri, bukan karena aku memihak kepada Lisa.”
“Ya. Terima kasih. Saya mengerti, dokter Ken,” balasnya pelan, masih menunduk dengan kepala lesu, tatapannya semakin kosong.
Tidak berapa lama kemudian, ponsel Casilda berdering.
“Ponselmu berbunyi,” tegur Ken pelan.
Casilda menoleh ke arah ponsel di atas nakas. Arkan membawakan ponselnya agar tetap bisa memantaunya secara teratur di rumah sakit. Pria itu benar-benar sudah mirip petugas yang akan memantaunya setiap beberapa jam sekali.
Tingkah laku Arkan bisa dibilang lebih parah daripada seorang penguntit yang terobsesi. Casilda ingin protes, tapi apa gunanya melakukan tindakan sia-sia begitu? Yang ada malah dia mungkin akan mencurigainya dengan banyak hal yang tidak jelas dari otak sialannya itu.
“Sudah makan?” tanya Arkan melalui panggilan video call.
Casilda mengangguk pelan, menjawabnya lesu. “Satu jam lalu baru saja selesai. Sekarang aku sedang menikmati keripik yang kamu bawa itu.”
“Baguslah. Ingat makan dengan teratur. Awas kalau kamu berani kabur dari rumah sakit!” ancamnya galak.
Casilda tersenyum kecut, memerhatikan kalau sepertinya sang suami baru saja selesai melakukan sebuah pengambilan gambar untuk web series yang dinontonnya sekarang.
“Hei, suami yang posesif itu tidak baik. Kamu malah akan membuatnya kabur, loh!” celutuk dokter Ken, tiba-tiba berdiri dan muncul di dekat Casilda.
Arkan terkejut dengan wajah marah luar biasa. “Kamu?! Kenapa kamu ada di situ?! Aku sudah bilang jangan terlalu sering mengunjunginya!”
Ken terkekeh jahil, memeluk sebelah bahu Casilda dan pamer kepadanya. “Kenapa? Kamu marah aku mendekati istrimu? Ternyata kamu adalah tipe suami pencemburu. Semua gabungan sifatmu tidak ada yang bagus! Casilda, kamu cerai saja darinya, lalu menikah denganku, bagaimana?”
Casilda yang terkejut dan linglung karena dipeluk tiba-tiba oleh Ken, bertatapan mata dengan sang dokter yang sibuk tersenyum lebar dan sangat jahil.
“Ken sialan! Apa-apaan kamu?! Cepat lepaskan dia! Berani sekali pegang-pegang! Kamu sudah bosan hidup?!” maki Arkan yang tiba-tiba berdiri dari duduknya, wajah mengganas hebat dengan aura kegelapan jatuh di kedua bola matanya yang dingin dan menakutkan.
Menyadari perubahan drastis Arkan yang sangat serius, Ken berpikir kalau aktor itu pasti bisa nekat datang ke rumah sakit hanya untuk menghajarnya. Selama semingguan ini mempelajari bagaimana hubungan suami istri itu, Ken bisa menilai kalau perhatian sang aktor benar-benar sangat istimewa kepada Casilda. Hanya saja dia tidak mengerti kenapa dia kadang begitu kejam dan tidak masuk akal kepadanya. Ataukah dia sudah mulai berubah dan menyadari kesalahannya?
Lantas, bagaimana dengan Lisa? Sudah tidak cinta lagi? Bagaimana Arkan dan Casilda bisa menikah tiba-tiba, itu masih menjadi misteri untuknya, tapi dia tidak mau pusing memikirkannya. Takutnya dia malah terjerat masalah yang rumit dengan pria galak di layar ponsel Casilda. Berurusan dengan keluarga Yamazaki bukanlah hal baik. Ken sangat paham hal itu.
Ken akhirnya melepaskan pelukannya, dan tersenyum jahil sebentar. Karena kode mata dari Casilda, dokter muda itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan. Tentu saja Arkan harus melihatnya agar yakin tidak ada yang menguping pembicaraan mereka berdua.
“Bagaimana? Puas?” tanya Casilda malas, sibuk mengarahkan kamera ponsel ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat.
“Bagus. Awas jika kamu berpelukan dengannya lagi!”
Casilda menatapnya kesal, mengomel tidak senang. “Apa katamu? Berpelukan? Kamu buta, ya? Dia yang memelukku duluan! Aku bahkan tidak membalas pelukannya sama sekali!”
Ketika Arkan ingin mendebatnya, tiba-tiba pria tampan itu membeku kaget begitu mendengar suara teriakannya sendiri dari seberang sana.
“Kamu sedang menonton apa?” tanyanya muram, nadanya dingin dan rendah.
Kening Casilda mengerut kecil. “Web series yang kamu bintangi baru-baru ini. Kenapa?”
“JANGAN MENONTONNYA! MATIKAN TELEVISINYA!” bentak Arkan marah, sudah mirip iblis yang lepas dari rantainya.
Casilda melotot kesal. “Kamu apa-apaan?! Kenapa melarangku menontonnya? Apa hakmu?!”
“AKU BILANG JANGAN MENONTONNYA! CEPAT MATIKAN!” titah Arkan tirani, otot-otot wajahnya mengeras sempurna. Benar-benar marah mendapati Casilda sedang menonton drama yang sedang dibintanginya itu.
“Tidak mau! Kenapa aku tidak boleh menontonnya?! Kamu tidak bisa melarangku ini itu!” protes Casilda keras kepala.
“RATU. CASILDA. WIJAYA!” geram Arkan super marah dengan wajah semakin gelap.
Casilda mengabaikannya, langsung mematikan panggilan video begitu saja.
“Casilda!” pekik Arkan kaget, tertegun melihat layar ponselnya sudah berubah hitam.
Tiba-tiba, pria tampan itu membeku dengan hawa dingin menggigit seluruh kulitnya.
“Kenapa dia malah menonton drama sialan itu?” rutuk Arkan dengan wajah depresi dan sangat muram, ponsel di tangannya digenggam erat-erat seolah akan dihancurkan olehnya detik itu juga.
Beberapa saat kemudian setelah panggilan video berakhir, Casilda baru paham kenapa Arkan melarangnya menonton drama mini web series itu.
“Oh... ini alasannya kenapa dia begitu marah? Memangnya kenapa kalau aku melihatnya?” gumam Casilda dengan wajah pucat dan memuram kelam. Semakin lesu dan tidak bersemangat melihat adegan ranjang di layar televisi tersebut. Hatinya bagaikan ditusuk oleh duri panas, sangat sakit dan menusuk perih.
Sekalipun Casilda tahu kalau adegan panas itu hanya diambil dengan tehnik tertentu, tidak ada sentuhan yang berbahaya, dan kedua orang di layar TV tersebut ditutupi oleh selimut tebal dengan pakaian masih terpasang di tubuh masing-masing, tetap saja adegan berpelukan mesra itu membuat siapa pun yang melihatnya akan memerah malu dan berdebar dibuatnya.
Tidak berapa lama kemudian, ketika adegan itu selesai, ponsel di tangan Casilda yang tergeletak lesu di pangkuannya, tiba-tiba bergetar.
Casilda menaikkan sebelah alisnya, tidak membuka pesannya langsung dan hanya membacanya melalui fitur pop pup di layar ponsel.
Arkan: Adegan ranjang seperti itu adalah hal biasa bagi kami para aktor dan artis! Lagi pula, kami masih memakai pakaian, bukan? Kamu jangan cemburu! Ciuman itu juga tidak nyata. Itu adalah tehnik tertentu! Bibir kami tidak bersentuhan sama sekali!
Sudut bibir Casilda berkedut-kedut jengkel membaca pesan tersebut. Wajahnya tidak terlihat baik.
“Jadi, dia pikir aku akan cemburu karena melihat adegan itu? Dasar playboy narsis! Untuk apa dia mengirim pesan seperti ini?” gerutu Casilda jengkel, tapi di dalam hatinya dia memang membenarkan kecemburuannya, dan merasa sedikit lega ketika mendapat penjelasan itu dari sang suami.
Di sisi lain, Arkan yang terus menatap layar ponselnya, tampak gelisah dan tidak sabaran untuk melihat warna centang pesannya berubah.
“Kenapa dia belum membacanya?” keluh Arkan dengan nada dan raut wajah sangat tidak puas. Kemarahan perlahan mulai muncul di hatinya.
Waiting for the first comment……
Please log in to leave a comment.