Garis tak terlihat
Share:

Garis tak terlihat

READING AGE 16+

Nea Angel H Realistic Urban

0 read

​Langit Semarang pagi itu punya melodi sendiri bagi Prem dan Sakura. Suara bising kendaraan yang memadati area Simpang Lima, aroma lumpia yang baru digoreng di sudut jalan, dan tawa renyah Sakura yang selalu berhasil membuat Prem lupa akan segala ruwetnya hari. Mereka sudah bersahabat selama 15 tahun, sejak masih mengenakan seragam wearpack di pabrik semarang, berbagi bekal di kantin, hingga kini menjadi dua individu dewasa yang punya impian di kota ini, tapi selalu punya ruang untuk satu sama lain.Setiap hari Minggu pagi, ritual mereka tak pernah berubah: ngopi di salah satu kafe estetik di kawasan Kota Lama dengan playlist yang sama. Prem dengan americano pahitnya, Sakura dengan es teh manisnya. Mereka akan berbagi cerita di antara bangunan-bangunan kolonial yang megah: gosip kantor di daerah Pemuda, film terbaru yang tayang di Paragon, atau ide-ide gila Sakura. Prem selalu menjadi pendengar setia, sesekali menyela dengan komentar cerdasnya yang membuat Sakura tertawa lepas di bawah langit semarang.​"Eh, kemarin aku ketemu cowok di pameran seni di Galeri Semarang," kata Sakura suatu hari, matanya berbinar. "Ganteng banget, Prem! Dia seniman, lho."​Prem merasakan sesuatu mencelos di dadanya, seperti ada jarum tak kasat mata yang menusuk. Ia tersenyum, senyum yang sudah ia latih di depan cermin, tampak tulus di luar tapi menyembunyikan ribuan tanya di dalam. "Oh ya? Terus, gimana? Udah tukeran nomor?"​Sakura mengangguk antusias. "Udah dong! Doain ya, kali ini beneran nyangkut."​Prem mengangguk, meneguk kopinya yang tiba-tiba terasa jauh lebih pahit daripada biasanya. "Pasti. Apa pun buat kamu, Sa."​Musim hujan di Semarang tiba dengan angin kencangnya. Satu sore, mereka terjebak hujan deras di halte bus depan Lawang Sewu. Payung Prem menjadi satu-satunya pelindung mereka dari guyuran langit yang membuat jalanan di depan mereka mulai tergenang. Prem memegang payung itu tinggi-tinggi, memastikan Sakura tidak basah sedikit pun. Wajah mereka begitu dekat, suara hujan yang menghantam atap halte menjadi satu-satunya melodi. Rambut Sakura yang sedikit basah karena angin menempel di pipinya, dan Prem melihat binar di mata Sakura yang entah mengapa terasa lebih intens di balik temaram lampu jalan.​Ada momen hening yang aneh. Bukan hening canggung, tapi hening yang penuh dengan pertanyaan tak terucap di tengah dinginnya udara Semarang. Prem merasakan detak jantungnya berpacu. Ia ingin sekali meraih tangan Sakura, mendekapnya, dan mengatakan semua yang selama ini ia pendam selama belasan tahun.​Sakura, aku mencintaimu. Bukan hanya sebagai sahabat, tapi lebih dari itu.​Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya. Namun, tatapan Prem jatuh pada gantungan kunci kecil berbentuk hati yang terpasang di tas Sakura—hadiah darinya simbol persahabatan abadi mereka. Di sana, terukir kata-kata yang Prem tulis sendiri: "Prem & Sakura: Best Friends Forever."​Napas Prem tercekat. Ia menarik kembali kata-kata itu, menelannya kembali bersama ketakutan yang tiba-tiba menggerogoti. "Duh, hujan Semarang kalau sudah begini awet banget ya. Untung aku bawa payung!" ia mencoba melontarkan lelucon hambar.​Sakura tersenyum, "Iya, untung ada kamu, Prem. Pahlawanku."​Pahlawan. Kata itu menghantam Prem. Hanya pahlawan, bukan kekasih.Jika aku menyatakan perasaanku pada Sakura dan dia menerimanya... Bagaimana jika nanti kami gagal? Bagaimana jika kami putus? Apakah aku masih bisa berjalan di Kota Lama tanpa merasa sesak? Apakah aku masih bisa ke Simpang Lima tanpa mencari sosoknya? Atau justru kami akan menjadi dua orang asing yang canggung, berpura-pura tidak kenal saat berpapasan di simpang lima?Prem merasakan nyeri yang luar biasa. Baginya, kehilangan Sakura sebagai kekasih adalah sebuah risiko. Tapi kehilangan Sakura sebagai sahabat setelah 15 tahun? Itu adalah kiamat. Ia tidak bisa membayangkan hidup di kota ini tanpa Sakura di sisinya.Ia lebih memilih "sakit karena memendam" daripada "sakit karena kehilangan sepenuhnya."Beberapa minggu kemudian, Sakura bercerita dengan wajah berseri-seri. "Prem, dia mengajakku kencan ke daerah Bandungan besok!"Prem merasakan sesak di dadanya, namun ia tersenyum tulus. "Wow! Selamat ya, Sak! Semoga lancar. Pakai jaket ya, di sana dingin."Sakura memeluknya erat, "Makasih banyak, Prem! Kamu emang sahabat terbaikku!"Prem membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang familiar di tengah udara malam Semarang, namun juga kepedihan yang tersembunyi. Prem tahu, ia baru saja membuat pilihan yang menyakitkan untuk menjaga Garis yang Tak Terlihat itu tetap kokoh."Banyak orang bilang, risiko terbesar dalam cinta adalah ditolak. Tapi buatku, risiko terbesarnya adalah diterima, lalu gagal, dan kita harus pura-pura tidak kenal di jalan yang sama. Aku lebih baik jadi 'selamanya' sebagai sahabat, daripada jadi 'pernah ada' sebagai mantan."Hujan kembali turun tipis-tipis. Prem meraih payungnya, melindungi dirinya sendiri dari badai yang tak kunjung usai di dalam dadanya.

Unfold

Tags: love-trianglesecond chancefriends to loverskickass heroinedramaboldlosercityoffice/work placechildhood crushsecrets
Latest Updated
BAB 8 : Garis yang Menjadi Rumah

Tiga bulan kemudian....

Langit Semarang di atas bukit Gombel sore itu berwarna oranye kemerahan, seperti sapuan cat minyak di atas kanvas raksasa.

Angin bertiup lembut, membawa aroma melati yang dipasang di sepanjang koridor sebuah hotel alam indah dengan pemandangan kota di bawahnya.

Hari ini bukan tentang……

Comment

    Navigate with selected cookies

    Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

    If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.