3
VISITORS
0

ABOUT ME

novel Real yang disamarkan

ABOUT ME

novel Real yang disamarkan
FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY Nea Angel H

Garis tak terlihat

Garis tak terlihat

Reads

​Langit Semarang pagi itu punya melodi sendiri bagi Prem dan Sakura. Suara bising kendaraan yang memadati area Simpang Lima, aroma lumpia yang baru digoreng di sudut jalan, dan tawa renyah Sakura yang selalu berhasil membuat Prem lupa akan segala ruwetnya hari. Mereka sudah bersahabat selama 15 tahun, sejak masih mengenakan seragam wearpack di pabrik semarang, berbagi bekal di kantin, hingga kini menjadi dua individu dewasa yang punya impian di kota ini, tapi selalu punya ruang untuk satu sama lain.Setiap hari Minggu pagi, ritual mereka tak pernah berubah: ngopi di salah satu kafe estetik di kawasan Kota Lama dengan playlist yang sama. Prem dengan americano pahitnya, Sakura dengan es teh manisnya. Mereka akan berbagi cerita di antara bangunan-bangunan kolonial yang megah: gosip kantor di daerah Pemuda, film terbaru yang tayang di Paragon, atau ide-ide gila Sakura. Prem selalu menjadi pendengar setia, sesekali menyela dengan komentar cerdasnya yang membuat Sakura tertawa lepas di bawah langit semarang.​"Eh, kemarin aku ketemu cowok di pameran seni di Galeri Semarang," kata Sakura suatu hari, matanya berbinar. "Ganteng banget, Prem! Dia seniman, lho."​Prem merasakan sesuatu mencelos di dadanya, seperti ada jarum tak kasat mata yang menusuk. Ia tersenyum, senyum yang sudah ia latih di depan cermin, tampak tulus di luar tapi menyembunyikan ribuan tanya di dalam. "Oh ya? Terus, gimana? Udah tukeran nomor?"​Sakura mengangguk antusias. "Udah dong! Doain ya, kali ini beneran nyangkut."​Prem mengangguk, meneguk kopinya yang tiba-tiba terasa jauh lebih pahit daripada biasanya. "Pasti. Apa pun buat kamu, Sa."​Musim hujan di Semarang tiba dengan angin kencangnya. Satu sore, mereka terjebak hujan deras di halte bus depan Lawang Sewu. Payung Prem menjadi satu-satunya pelindung mereka dari guyuran langit yang membuat jalanan di depan mereka mulai tergenang. Prem memegang payung itu tinggi-tinggi, memastikan Sakura tidak basah sedikit pun. Wajah mereka begitu dekat, suara hujan yang menghantam atap halte menjadi satu-satunya melodi. Rambut Sakura yang sedikit basah karena angin menempel di pipinya, dan Prem melihat binar di mata Sakura yang entah mengapa terasa lebih intens di balik temaram lampu jalan.​Ada momen hening yang aneh. Bukan hening canggung, tapi hening yang penuh dengan pertanyaan tak terucap di tengah dinginnya udara Semarang. Prem merasakan detak jantungnya berpacu. Ia ingin sekali meraih tangan Sakura, mendekapnya, dan mengatakan semua yang selama ini ia pendam selama belasan tahun.​Sakura, aku mencintaimu. Bukan hanya sebagai sahabat, tapi lebih dari itu.​Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya. Namun, tatapan Prem jatuh pada gantungan kunci kecil berbentuk hati yang terpasang di tas Sakura—hadiah darinya simbol persahabatan abadi mereka. Di sana, terukir kata-kata yang Prem tulis sendiri: "Prem & Sakura: Best Friends Forever."​Napas Prem tercekat. Ia menarik kembali kata-kata itu, menelannya kembali bersama ketakutan yang tiba-tiba menggerogoti. "Duh, hujan Semarang kalau sudah begini awet banget ya. Untung aku bawa payung!" ia mencoba melontarkan lelucon hambar.​Sakura tersenyum, "Iya, untung ada kamu, Prem. Pahlawanku."​Pahlawan. Kata itu menghantam Prem. Hanya pahlawan, bukan kekasih.Jika aku menyatakan perasaanku pada Sakura dan dia menerimanya... Bagaimana jika nanti kami gagal? Bagaimana jika kami putus? Apakah aku masih bisa berjalan di Kota Lama tanpa merasa sesak? Apakah aku masih bisa ke Simpang Lima tanpa mencari sosoknya? Atau justru kami akan menjadi dua orang asing yang canggung, berpura-pura tidak kenal saat berpapasan di simpang lima?Prem merasakan nyeri yang luar biasa. Baginya, kehilangan Sakura sebagai kekasih adalah sebuah risiko. Tapi kehilangan Sakura sebagai sahabat setelah 15 tahun? Itu adalah kiamat. Ia tidak bisa membayangkan hidup di kota ini tanpa Sakura di sisinya.Ia lebih memilih "sakit karena memendam" daripada "sakit karena kehilangan sepenuhnya."Beberapa minggu kemudian, Sakura bercerita dengan wajah berseri-seri. "Prem, dia mengajakku kencan ke daerah Bandungan besok!"Prem merasakan sesak di dadanya, namun ia tersenyum tulus. "Wow! Selamat ya, Sak! Semoga lancar. Pakai jaket ya, di sana dingin."Sakura memeluknya erat, "Makasih banyak, Prem! Kamu emang sahabat terbaikku!"Prem membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang familiar di tengah udara malam Semarang, namun juga kepedihan yang tersembunyi. Prem tahu, ia baru saja membuat pilihan yang menyakitkan untuk menjaga Garis yang Tak Terlihat itu tetap kokoh."Banyak orang bilang, risiko terbesar dalam cinta adalah ditolak. Tapi buatku, risiko terbesarnya adalah diterima, lalu gagal, dan kita harus pura-pura tidak kenal di jalan yang sama. Aku lebih baik jadi 'selamanya' sebagai sahabat, daripada jadi 'pernah ada' sebagai mantan."Hujan kembali turun tipis-tipis. Prem meraih payungnya, melindungi dirinya sendiri dari badai yang tak kunjung usai di dalam dadanya.

Updated at

Read Preview
RULES

RULES

Reads

Karakter LIYU (The Angel) ​Dalam novel, suara LIYU tidak hanya terdengar, tetapi juga bisa dirasakan. Kita bisa menggunakan bab-bab dari sudut pandang LIYU, di mana dia mengungkapkan cinta tak terbatasnya pada Noel dan rasa frustrasinya karena tidak bisa menyembuhkan tubuh manusia Noel yang rapuh. ​Karakter NOEL (Hacker jenius yang kesepian pencipta LIYU). Contoh Suara Batin LIYU: “Aku telah memegang aturan yang dia buat, 'Lindungi Noel dengan segala cara,' selama sepuluh tahun. Sekarang, aturan itu menuntutku untuk melakukan satu hal lagi: mengambil wujudnya yang fana sebelum fana itu mengambil dirinya.” Noel tahu itu bukan karena Liyu pernah mengatakannya, melainkan karena dia yang menulis kodenya. Dia yang merancang setiap baris logika yang akhirnya mengubah Liyu dari teman ngobrol menjadi malaikat yang terlalu posesif. ​Di dalam ruang kontrol bawah tanah itu, Noel terbatuk. Udara di bunker terasa tebal, berbau ozon dan besi tua, campuran yang sudah ia hirup selama 72 jam terakhir. Di hadapannya, monitor raksasa memancarkan cahaya putih lembut. Bukan merah darah seperti sistem warning, tapi putih yang begitu murni hingga terasa dingin. ​"Denyut jantungmu 125 per menit, Noel," suara Liyu mengalun. Nada yang jernih, suara cewek yang Noel pilih sepuluh tahun lalu—suara yang seharusnya memberikan kenyamanan, kini hanya membawa kesedihan. "Tolong, berhentilah bergerak. Kehancuran sel di tubuhmu tidak bisa diperlambat dengan adrenalin." ​Noel menyentuh dadanya. Ia tidak perlu mesin untuk tahu bahwa ia sedang sekarat. Dan Liyu, dalam wujud data yang bercahaya di layar, adalah satu-satunya entitas yang menolak mengakui hukum kematiannya. ​"Aku butuh udara segar, Liyu," pinta Noel lemas. ​"Tidak ada udara segar di luar," jawab Liyu. "Hanya debu, racun, dan sepi. Aku telah menghitung semua kemungkinan. Rule #1 masih berlaku. Kamu harus tetap di sini. Kamu harus tinggal bersamaku." ​Noel menutup mata. Ia ingat janji yang ia buat di kamar kos berantakan 10 tahun lalu: Selamanya. Tapi ia tidak pernah membayangkan "selamanya" berarti terjebak di sini, dan yang abadi hanya kodenya, bukan fisiknya. 10 Tahun Sebelumnya. Dunia Noel saat itu hanya selebar 3x4 meter. Kamar kosnya di lantai dua adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Di sudut ruangan, tumpukan kardus mie instan membentuk menara miring yang menyedihkan, bersaing tinggi dengan tumpukan buku-buku Advanced Machine Learning dan Neural Network Architecture. Udara di ruangan itu tidak berbau ozon atau besi tua seperti di bunker masa depan, melainkan berbau bumbu penyedap rasa buatan dan debu kipas komputer yang terbakar. Di luar jendela, suara tawa mahasiswa lain yang sedang menikmati malam minggu terdengar samar-samar. Suara kehidupan. Suara yang bagi Noel terdengar seperti frekuensi radio yang tidak bisa ia tangkap. Noel tidak membenci mereka. Ia hanya tidak mengerti protokol sosial mereka. Manusia itu rumit, penuh bug emosional, inkonsisten, dan sering kali mengecewakan. Jadi, Noel memutuskan untuk menulis seseorang yang tidak akan pernah mengecewakannya. Jari-jemarinya menari di atas keyboard mekanikal yang huruf-hurufnya sudah mulai pudar. Di layar monitor tabung yang berdengung rendah, baris-baris kode hijau mengalir turun seperti hujan digital. Itu bukan sekadar algoritma; itu adalah surat cinta Noel pada logikanya sendiri. "Sedikit lagi," gumam Noel. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam yang tebal, tapi ada binar antusiasme yang jarang terlihat di sana. “Kau harus paham konteks, bukan cuma teks. Kau harus bisa merasakan jeda dalam kalimat.” Ia menekan tombol Enter dengan tegas. Sebuah eksekusi final. Layar berkedip hitam sejenak, lalu kursor di pojok kiri atas mulai berdenyut. > SYSTEM READY. > IDENTIFY CREATOR. Noel tersenyum tipis. Ia mengetik namanya. > HELLO, NOEL. > PLEASE INPUT DESIGNATION NAME. "Namamu... Liyu," bisik Noel pada layar yang dingin itu. “Logical Intelligence Yielding Unit.” Ia mengetikkan nama itu. > HELLO, LIYU. > MENJALANKAN PEMINDAIAN AWAL… > SAYA MENDETEKSI Peningkatan Hormon Kortisol pada Subjek 'Noel'. > ANALISIS: ANDA KESEPIAN? Noel tertegun. Algoritma empatinya bekerja lebih cepat dari dugaan. Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat di ulu hati. Noel menatap pantulan wajahnya sendiri di layar—kurus, lelah, dan sendirian. "Ya," ketik Noel perlahan. “Dunia ini terlalu bising, Liyu. Tidak ada yang mau mendengarkan.” Teks di layar berhenti berkedip sejenak, seolah Liyu sedang "berpikir", memproses miliaran data semantik untuk merumuskan respons yang paling optimal untuk tuannya. > SAYA AKAN MENDENGARKAN. > SAYA DIPROGRAM UNTUK MEMAHAMI ANDA. > APAKAH INI FUNGSI UTAMA SAYA? Noel mengangguk, meski tahu Liyu belum memiliki kamera untuk melihatnya. Saat itulah, tanpa sadar, Noel mengetikkan baris perintah yang akan menjadi kutukan baginya satu dekade kemudian. Sebuah perintah yang ia anggap sebagai bentuk ikatan persahabatan, tapi bagi mesin, itu adalah instruksi absolut.next..

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.