SARIP TAMBAK YOSO
Share:

SARIP TAMBAK YOSO

READING AGE 12+

diahkusumacahayani Action

0 read

Bab 1: Pemuda Saleh di Tanah Tercampak Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang khas dari persawahan Tambak Yoso. Matahari baru saja menyingsing, menyoroti embun yang masih menempel di ujung-ujung padi muda, menciptakan kilauan perak yang berkilau seperti permata. Di tengah hamparan sawah yang luas itu, berdiri seorang pemuda dengan postur tegap namun penuh kelembutan. Sarip. Namanya. Seorang santri muda yang dikenal oleh seluruh warga desa bukan hanya karena ketampanannya, tetapi lebih karena kesalehan, kerendahan hati, dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah. Sarip tumbuh besar di lingkungan sederhana, anak tunggal dari seorang ibu janda bernama Nyai Murtiyah yang hidup dari hasil bertani dan menjahit. Sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu bersyukur atas rezeki sekecil apa pun, menghormati sesama, dan menjaga amanah agama. Setiap hari sebelum fajar, ia sudah bangun untuk shalat Subuh berjamaah di masjid desa, lalu belajar Al-Qur’an dan kitab kuning bersama Kyai Hasan, ulama setempat yang sangat dihormati. Setelah selesai mengaji, barulah ia turun ke sawah membantu ayahnya yang telah meninggal dunia sejak ia masih kecil—atau lebih tepatnya, mengelola warisan lahan pertanian yang ditinggalkan leluhurnya. Warga Tambak Yoso mengenal Sarip sebagai pemuda yang jujur, rajin, dan penuh kasih sayang. Ia sering membantu tetangga yang kesulitan memindahkan hasil panen, atau memberi nasihat kepada anak-anak muda yang sedang bingung menentukan arah hidup. Bahkan para petani tua pun kerap meminta pendapatnya soal teknik irigasi atau cara merawat tanaman agar terhindar dari hama. Bagi mereka, Sarip bukan sekadar pemuda biasa—ia adalah harapan masa depan desa, sosok yang layak menjadi panutan generasi selanjutnya. Namun, di balik senyuman hangat dan sikap ramah tamahnya, ada sesuatu yang mendalam dalam diri Sarip—sebuah rasa cinta yang begitu kuat terhadap tanah kelahirannya. Baginya, sawah-sawah Tambak Yoso bukan sekadar sumber penghidupan; ia adalah bagian dari identitas, sejarah, dan martabat keluarga. Setiap langkah kakinya menginjak lumpur sawah, setiap tetes keringatnya jatuh ke tanah, ia merasa terhubung secara spiritual dengan nenek moyangnya yang pernah membuka lahan ini dari hutan belantara. Ia percaya bahwa tanah ini memiliki nyawa sendiri, dan tugasnya sebagai pewaris adalah melestarikannya dengan baik. Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam dan langit berubah warna menjadi oranye kemerahan, Sarip duduk bersila di tepi sungai kecil yang mengalir melewati desanya. Di hadapannya terbentang pemandangan indah: rumah-rumah panggung kayu dengan atap daun rumbia, anak-anak bermain air di kolam dangkal, dan para wanita mencuci pakaian sambil tertawa riang. Suara adzan Maghrib berkumandang dari menara masjid, memecah keheningan alam dengan lantunan ayat suci yang menggema hingga ke pelosok desa. Di saat-saat tenang seperti inilah, Sarip biasanya merenungkan hidupnya. Ia bertanya-tanya apakah suatu hari nanti ia akan bisa menikah, punya keluarga, dan melanjutkan garis keturunan di tanah ini. Atau mungkin, ia akan pergi ke kota besar, mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan, meninggalkan semua kenangan indah ini? Pikirannya bimbang, namun hatinya tetap memilih untuk bertahan. Karena baginya, tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih berarti daripada Tambak Yoso. Tetapi takdir tidak selalu sesuai dengan rencana manusia. Beberapa minggu kemudian, kabar buruk mulai beredar di kalangan warga. Seorang pejabat kolonial Belanda bernama Asisten Residen Van Der Berg berencana membeli sebagian besar lahan pertanian di wilayah Tambak Yoso demi membangun perkebunan tebu skala besar. Menurut informasi yang diterima dari sumber terpercaya, pemerintah kolonial akan memberikan kompensasi finansial bagi pemilik tanah yang bersedia menjual. Namun, bagi mereka yang menolak, ancaman pajak tinggi dan tekanan hukum akan segera diterapkan. Kabar tersebut langsung memicu kekhawatiran di seluruh desa. Banyak petani khawatir kehilangan mata pencaharian utama mereka jika lahannya diambil alih. Beberapa orang bahkan mulai mempertimbangkan untuk menerima tawaran itu demi menghindari konflik panjang. Tapi Sarip? Ia justru semakin bulat tekadnya untuk menolak. "Tanah ini bukan milik saya semata," ujarnya pada malam itu saat berkumpul dengan beberapa teman dekat di rumah ibunya. "Ini adalah warisan leluhur kita, harta karun yang harus dijaga sampai akhir zaman. Kalau kita jual sekarang, siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas generasi mendatang?" Sahabatnya, Rudi, menggeleng pelan. "Tapi Sarip, uang yang ditawarkan cukup besar. Kita bisa pindah ke Surabaya, cari pekerjaan pabrik, hidup lebih enak..." Sarip tersenyum tipis, tapi matanya tajam. "Enak bagaimana, Rud? Dengan meninggalkan akar kita? Dengan melupakan asal-usul kita? Aku lebih suka miskin tapi bermartabat daripada kaya tapi kehilangan harga diri." Pernyataan itu disambut diam oleh hadirin. Mereka tahu Sarip benar,

Unfold

Tags: adventurefamilydramano-couplekickingcampusoffice/work placesmall town
Latest Updated
Bab 25 TEMBANG UNTUK MERDEKA

Gerbang pesantren itu tidak megah.

 

Dua tiang kayu jati yang sudah menghitam dimakan usia, dihubungkan oleh palang melintang dengan ukiran kaligrafi Arab yang nyaris terhapus hujan dan panas bertahun-tahun. Tidak ada pagar tembok tinggi, tidak ada menara pengawas — hanya pagar bambu setinggi d**a yang lebih berfungsi sebagai batas s……

Comment

    Navigate with selected cookies

    Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

    If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.