0
VISITORS
0

ABOUT ME

ABOUT ME

FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY diahkusumacahayani

Topant aspal jalanan

Topant aspal jalanan

Reads

Bab 1: Dua Dunia yang BertabrakanHujan deras malam itu di Jakarta tidak sekadar membasahi aspal; ia seolah-olah mencoba mencuci dosa-dosa kota yang tak pernah tidur. Di sudut gang sempit kawasan Tanah Abang, jauh dari kilau lampu neon gedung pencakar langit SCBD, TopAnt duduk bersandar pada tembok bata yang lembap. Asap rokok kretek mengepul tipis dari bibirnya, menyatu dengan uap napas dinginnya. Usianya baru dua puluh empat tahun, tetapi matanya menyimpan kelelahan pria paruh baya. Jaket kulit usangnya—hadiah terakhir dari ayahnya sebelum meninggal karena sakit paru-paru—melindunginya dari angin malam yang menusuk tulang.TopAnt bukan penjahat, setidaknya bukan dalam definisi hukum. Ia adalah seorang mekanik motor liar yang tangannya lebih sering berlumur oli daripada memegang pulpen. Hidupnya adalah pertarungan harian untuk bertahan hidup, membayar utang warung, dan melindungi adik perempuannya, Sari, dari pengaruh buruk lingkungan mereka. Bagi TopAnt, cinta adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli. Cinta membutuhkan waktu, ketenangan, dan uang—tiga hal yang selalu kurang dalam hidupnya. Nama "TopAnt" sendiri adalah julukan yang diberikan oleh teman-teman jalannya karena keuletannya seperti semut (ant) dan ambisinya yang ingin berada di puncak (top), meski kenyataannya ia masih bergelut di dasar.Sementara itu, lima kilometer ke arah selatan, di sebuah penthouse mewah di kawasan Kuningan, Anna sedang berdiri di depan jendela kaca raksasa. Gaun sutra berwarna emerald green melingkupi tubuhnya yang ramping, kontras dengan kesepian yang mencekam di ruangan seluas lapangan tenis itu. Anna, putri tunggal dari salah satu konglomerat properti terbesar di Indonesia, baru saja kembali dari pesta amal yang membosankan. Senyumnya telah kaku setelah berjam-jam menjabat tangan orang-orang yang hanya tertarik pada koneksi bisnis ayahnya."Kamu terlihat lelah, Nona Anna," suara pelayan pribadi mereka memecah keheningan.Anna hanya mengangguk pelan. Matanya menatap lampu-lampu kota di bawah sana, ribuan titik cahaya yang masing-masing mewakili kehidupan seseorang. Ia merasa terjebak dalam sangkar emas. Ayahnya, Bapak Hendra, memiliki segalanya kecuali waktu untuk mendengarkan anaknya. Ibu tirinya lebih sibuk dengan acara sosialita daripada menjadi figur ibu. Anna merasa hampa. Ia mencari sesuatu yang nyata, sesuatu yang tidak palsu, sesuatu yang bisa membuatnya merasa hidup.Keesokan harinya, takdir memainkan skenarionya dengan cara yang tidak terduga. Anna, yang merasa sesak dengan rutinitasnya, memutuskan untuk kabur sejenak dari pengawal pribadinya. Dengan mengenakan pakaian kasual sederhana—kaos putih polos, jeans, dan sneakers—ia menyelinap keluar melalui pintu layanan apartemen. Ia ingin merasakan udara Jakarta yang sebenarnya, bukan udara ber-AC yang steril. Ia naik ojek online hingga ke daerah pasar lama, tempat ia belum pernah menginjakkan kaki sebelumnya.Di tengah kerumunan pasar yang padat dan bising, motor sport tua milik Anna—yang sebenarnya disewa secara diam-diam untuk sensasi berkendara—tiba-tiba mogok tepat di depan bengkel kecil milik TopAnt. Bengkel itu tidak punya papan nama mencolok, hanya sebuah spanduk kain biru yang sudah pudar bertuliskan "Bengkel T".Anna turun dari motornya dengan wajah cemas. Ia melihat sekeliling; tempat itu kotor, berminyak, dan dipenuhi pria-pria berbadan kekar yang sedang memperbaiki kendaraan. Ia merasa tidak aman, namun rasa penasaran dan keputusasaan karena keterlambatan pertemuan bisnis ayahnya memaksanya untuk tetap berada di sana."Hei, Mbak! Motornya kenapa?" suara berat dan serak terdengar dari balik tumpukan ban bekas.TopAnt muncul, mengusap tangan berminyaknya dengan kain lap kotor. Ia menatap Anna sekilas. Pandangan pertama itu singkat, namun cukup bagi TopAnt untuk menyadari bahwa wanita ini bukan dari dunia mereka. Kulitnya terlalu bersih, pakaiannya terlalu mahal, dan ada aroma parfum mahal yang bertentangan dengan bau bensin dan oli di sekitarnya. Namun, yang menarik perhatian TopAnt bukanlah kekayaan Anna, melainkan mata Anna. Ada kesedihan mendalam di sana, sejenis kekosongan yang sangat familiar bagi TopAnt, meskipun alasan penyebabnya pasti berbeda."Mogok, Mas. Tiba-tiba mati saat di jalan raya," jawab Anna, suaranya sedikit bergetar karena gugup menghadapi tatapan tajam TopAnt.TopAnt mendekat, memeriksa mesin motor tersebut dengan gerakan ahli. Jari-jarinya yang kasar dan penuh luka kecil bergerak cepat dan presisi. Anna memperhatikan tangan itu. Tangan yang keras, kotor, namun terampil. Berbeda dengan tangan teman-teman sosialitanya yang lembut dan hanya terbiasa memegang gelas champagne."Busi basah, plus filter udaranya mampet total. Kamu jarang servis ya?" tanya TopAnt tanpa menoleh, fokus pada pekerjaannya."Saya... iya, maaf. Saya jarang pakai motor ini," aku Anna jujur.TopAnt mendengus pelan, hampir seperti tertawa. "Motor itu seperti pasangan, Mbak. Kalau diabaikan, dia bakal ninggalin kamu di saat paling butuh."lajut bab

Updated at

Read Preview
SARIP TAMBAK YOSO

SARIP TAMBAK YOSO

Reads

Bab 1: Pemuda Saleh di Tanah Tercampak Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang khas dari persawahan Tambak Yoso. Matahari baru saja menyingsing, menyoroti embun yang masih menempel di ujung-ujung padi muda, menciptakan kilauan perak yang berkilau seperti permata. Di tengah hamparan sawah yang luas itu, berdiri seorang pemuda dengan postur tegap namun penuh kelembutan. Sarip. Namanya. Seorang santri muda yang dikenal oleh seluruh warga desa bukan hanya karena ketampanannya, tetapi lebih karena kesalehan, kerendahan hati, dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah. Sarip tumbuh besar di lingkungan sederhana, anak tunggal dari seorang ibu janda bernama Nyai Murtiyah yang hidup dari hasil bertani dan menjahit. Sejak kecil, ia diajarkan untuk selalu bersyukur atas rezeki sekecil apa pun, menghormati sesama, dan menjaga amanah agama. Setiap hari sebelum fajar, ia sudah bangun untuk shalat Subuh berjamaah di masjid desa, lalu belajar Al-Qur’an dan kitab kuning bersama Kyai Hasan, ulama setempat yang sangat dihormati. Setelah selesai mengaji, barulah ia turun ke sawah membantu ayahnya yang telah meninggal dunia sejak ia masih kecil—atau lebih tepatnya, mengelola warisan lahan pertanian yang ditinggalkan leluhurnya. Warga Tambak Yoso mengenal Sarip sebagai pemuda yang jujur, rajin, dan penuh kasih sayang. Ia sering membantu tetangga yang kesulitan memindahkan hasil panen, atau memberi nasihat kepada anak-anak muda yang sedang bingung menentukan arah hidup. Bahkan para petani tua pun kerap meminta pendapatnya soal teknik irigasi atau cara merawat tanaman agar terhindar dari hama. Bagi mereka, Sarip bukan sekadar pemuda biasa—ia adalah harapan masa depan desa, sosok yang layak menjadi panutan generasi selanjutnya. Namun, di balik senyuman hangat dan sikap ramah tamahnya, ada sesuatu yang mendalam dalam diri Sarip—sebuah rasa cinta yang begitu kuat terhadap tanah kelahirannya. Baginya, sawah-sawah Tambak Yoso bukan sekadar sumber penghidupan; ia adalah bagian dari identitas, sejarah, dan martabat keluarga. Setiap langkah kakinya menginjak lumpur sawah, setiap tetes keringatnya jatuh ke tanah, ia merasa terhubung secara spiritual dengan nenek moyangnya yang pernah membuka lahan ini dari hutan belantara. Ia percaya bahwa tanah ini memiliki nyawa sendiri, dan tugasnya sebagai pewaris adalah melestarikannya dengan baik. Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam dan langit berubah warna menjadi oranye kemerahan, Sarip duduk bersila di tepi sungai kecil yang mengalir melewati desanya. Di hadapannya terbentang pemandangan indah: rumah-rumah panggung kayu dengan atap daun rumbia, anak-anak bermain air di kolam dangkal, dan para wanita mencuci pakaian sambil tertawa riang. Suara adzan Maghrib berkumandang dari menara masjid, memecah keheningan alam dengan lantunan ayat suci yang menggema hingga ke pelosok desa. Di saat-saat tenang seperti inilah, Sarip biasanya merenungkan hidupnya. Ia bertanya-tanya apakah suatu hari nanti ia akan bisa menikah, punya keluarga, dan melanjutkan garis keturunan di tanah ini. Atau mungkin, ia akan pergi ke kota besar, mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan, meninggalkan semua kenangan indah ini? Pikirannya bimbang, namun hatinya tetap memilih untuk bertahan. Karena baginya, tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih berarti daripada Tambak Yoso. Tetapi takdir tidak selalu sesuai dengan rencana manusia. Beberapa minggu kemudian, kabar buruk mulai beredar di kalangan warga. Seorang pejabat kolonial Belanda bernama Asisten Residen Van Der Berg berencana membeli sebagian besar lahan pertanian di wilayah Tambak Yoso demi membangun perkebunan tebu skala besar. Menurut informasi yang diterima dari sumber terpercaya, pemerintah kolonial akan memberikan kompensasi finansial bagi pemilik tanah yang bersedia menjual. Namun, bagi mereka yang menolak, ancaman pajak tinggi dan tekanan hukum akan segera diterapkan. Kabar tersebut langsung memicu kekhawatiran di seluruh desa. Banyak petani khawatir kehilangan mata pencaharian utama mereka jika lahannya diambil alih. Beberapa orang bahkan mulai mempertimbangkan untuk menerima tawaran itu demi menghindari konflik panjang. Tapi Sarip? Ia justru semakin bulat tekadnya untuk menolak. "Tanah ini bukan milik saya semata," ujarnya pada malam itu saat berkumpul dengan beberapa teman dekat di rumah ibunya. "Ini adalah warisan leluhur kita, harta karun yang harus dijaga sampai akhir zaman. Kalau kita jual sekarang, siapa lagi yang akan bertanggung jawab atas generasi mendatang?" Sahabatnya, Rudi, menggeleng pelan. "Tapi Sarip, uang yang ditawarkan cukup besar. Kita bisa pindah ke Surabaya, cari pekerjaan pabrik, hidup lebih enak..." Sarip tersenyum tipis, tapi matanya tajam. "Enak bagaimana, Rud? Dengan meninggalkan akar kita? Dengan melupakan asal-usul kita? Aku lebih suka miskin tapi bermartabat daripada kaya tapi kehilangan harga diri." Pernyataan itu disambut diam oleh hadirin. Mereka tahu Sarip benar,

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.