"Krisis di Paviliun Giok"
READING AGE 18+
**** (Yù Tíng Wēijú)Chang’an tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya berpura-pura tenang di bawah wangi dupa yang memuakkan.Bagi Jiang A-Ning, dunia berhenti berisik sejak api melahap kediaman ayahnya. Yang tersisa hanyalah denting zirah di tangannya dan sebuah pesan terakhir: Jangan menangis untuk hal yang sudah hancur. Maka, ia berhenti merasa. Ia berjalan di lorong-lorong emas Istana Daming bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah lubang hitam yang siap menelan siapa pun yang berani menatap terlalu lama ke dalam matanya yang kosong.Ada lima pria yang mengitari singgasananya di Paviliun Giok. Masing-masing membawa pisau di balik senyuman, dan obsesi di balik sumpah setia.Satu ingin memahatnya menjadi ratu yang patuh. Satu ingin menyembunyikannya di kedalaman samudra yang dingin. Satu lagi ingin merobek jubah sutranya untuk melihat apakah darahnya masih berwarna merah yang sama dengan manusia. Mereka bertarung, saling mencabik, dan menandai wilayah, mengira mereka sedang memperebutkan hadiah paling berharga di kekaisaran.Tapi mereka salah paham.Mereka mengira A-Ning adalah mangsa yang terjepit di sudut ruangan. Mereka lupa bahwa seekor binatang paling berbahaya justru saat ia berhenti menggeram. Saat malam tanpa bulan tiba dan tembok-tembok Tang mulai retak, mereka akan menyadari satu kebenaran pahit:A-Ning tidak pernah meminta untuk diselamatkan. Dan di akhir perjalanan yang berdarah ini, mungkin bukan musuh yang harus mereka takuti, melainkan gadis yang tangannya sedang mereka cium dengan penuh pemujaan."Aku tidak pernah pergi ke mana pun. Kalianlah yang memilih untuk tersesat di dalam rumah yang sudah lama kosong."
Unfold
Bau tanah basah dan aroma dingin yang tajam menyambut kesadaran A-Ning. Ia tidak mencium bau asap Desa Liang yang terbakar, tidak juga mendengar raungan Shen Wei atau amukan ombak Lan Zhao. Yang ada hanyalah keheningan yang lembap.
Ia membuka mata. Langit-langit ruangan itu tinggi, melengkung, dan gelap, dihiasi ukiran ular yang melilit ti……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……