20
VISITORS
0

ABOUT ME

Holla, pembaca. Panggil saya Noxamini. Di sini, saya tidak hanya menulis cerita; saya membangun penjara manis dari kata-kata. Kalau kalian mencari romansa yang aman, kalian salah alamat. Saya di sini untuk mereka yang haus akan karakter pria morally grey, pria yang rela bertekuk lutut, dan dinamika kekuasaan yang tajam. Saya menulis apa yang orang lain takutkan untuk dibayangkan. Saya ramah untuk diajak diskusi, tapi ingat: di dalam naskah, sayalah penguasa tunggalnya.

ABOUT ME

Holla, pembaca. Panggil saya Noxamini. Di sini, saya tidak hanya menulis cerita; saya membangun penjara manis dari kata-kata. Kalau kalian mencari romansa yang aman, kalian salah alamat. Saya di sini untuk mereka yang haus akan karakter pria morally grey, pria yang rela bertekuk lutut, dan dinamika kekuasaan yang tajam. Saya menulis apa yang orang lain takutkan untuk dibayangkan. Saya ramah untuk diajak diskusi, tapi ingat: di dalam naskah, sayalah penguasa tunggalnya.
FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY Noxamini

NEUROTRADE: The Monkey’s Cage

NEUROTRADE: The Monkey’s Cage

Reads

Selamat datang di era di mana realita hanyalah kotak beton yang terlalu dingin.Bagi empat gadis ini, realita itu hampir runtuh. Di mansion mewah, seorang ahli waris yang dianggap sampah oleh ayahnya sedang menunggu hari untuk dibuang. Di gerbang sekolah kusam, seorang Lolita modis sedang dihitung harganya sebagai aset kotor oleh penagih hutang. Di kantin, seorang jenius sedang di-bully sebagai robot tak berperasaan. Dan di gang pasar, seorang petarung sedang berdarah, dikalahkan oleh kekuasaan licik sementara adiknya di rumah menahan lapar.Mereka cantik, berbahaya, dan sedang putus asa. Di saat batas akhir kesabaran mereka meledak karena dunia yang sama-sama busuk, sebuah ikon muncul di layar ponsel mereka. Seekor monyet kecil yang tersenyum lebar. [ZEN].Itu bukan sekadar aplikasi. Itu adalah jalan pintas. Sebuah undangan dari dewa-dewa dunia bawah yang licik untuk meninggalkan realita yang mereka benci dan masuk ke tempat di mana ego mereka akan menjadi senjata paling mematikan: NEUROTRADE.Misi pertama mereka hanya soal balas dendam personal. Sangat mudah. Tapi di saat mereka klik [JOIN], mereka tidak sadar kalau uang yang masuk ke rekening mereka adalah DP untuk jiwa mereka.Satu sentuhan. Satu transaksi. Dan pintu gerbang menuju "Kandang Monyet" terbuka lebar, mengurung mereka dalam permainan perdagangan kesadaran, di mana kawan bisa jadi komoditas dan taruhannya adalah eksistensi mereka sendiri.Mereka mengira mereka bisa menguasai sistem ini. Mereka salah.NEUROTRADE: The Monkey’s Cage. Permainan dimulai. Jangan lupa untuk Logout, kalau bisa.

Updated at

Read Preview

"Krisis di Paviliun Giok"

Reads

玉亭危局 (Yù Tíng Wēijú)Chang’an tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya berpura-pura tenang di bawah wangi dupa yang memuakkan.Bagi Jiang A-Ning, dunia berhenti berisik sejak api melahap kediaman ayahnya. Yang tersisa hanyalah denting zirah di tangannya dan sebuah pesan terakhir: Jangan menangis untuk hal yang sudah hancur. Maka, ia berhenti merasa. Ia berjalan di lorong-lorong emas Istana Daming bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah lubang hitam yang siap menelan siapa pun yang berani menatap terlalu lama ke dalam matanya yang kosong.Ada lima pria yang mengitari singgasananya di Paviliun Giok. Masing-masing membawa pisau di balik senyuman, dan obsesi di balik sumpah setia.Satu ingin memahatnya menjadi ratu yang patuh. Satu ingin menyembunyikannya di kedalaman samudra yang dingin. Satu lagi ingin merobek jubah sutranya untuk melihat apakah darahnya masih berwarna merah yang sama dengan manusia. Mereka bertarung, saling mencabik, dan menandai wilayah, mengira mereka sedang memperebutkan hadiah paling berharga di kekaisaran.Tapi mereka salah paham.Mereka mengira A-Ning adalah mangsa yang terjepit di sudut ruangan. Mereka lupa bahwa seekor binatang paling berbahaya justru saat ia berhenti menggeram. Saat malam tanpa bulan tiba dan tembok-tembok Tang mulai retak, mereka akan menyadari satu kebenaran pahit:A-Ning tidak pernah meminta untuk diselamatkan. Dan di akhir perjalanan yang berdarah ini, mungkin bukan musuh yang harus mereka takuti, melainkan gadis yang tangannya sedang mereka cium dengan penuh pemujaan."Aku tidak pernah pergi ke mana pun. Kalianlah yang memilih untuk tersesat di dalam rumah yang sudah lama kosong."

Updated at

Read Preview
AMERTA

AMERTA

Reads

Pernahkah kalian berkhayal untuk pergi ke tempat yang jauh?Melarikan diri dari rasa lelah, dari kenyataan, dan dari hidup yang terasa terlalu sesak?Mungkin cerita ini adalah tempat singgah untuk kalian.Sebuah kisah tentang petualangan, cinta, dan persahabatan yang saling bertaut.Jémina tumbuh dalam keluarga yang berlimpah harta, namun retak oleh perpisahan orang tuanya.Nisa dibesarkan tanpa kehadiran sosok ayah.Gita hidup dalam keluarga disiplin yang menuntutnya selalu menjadi sempurna.Araya berasal dari keluarga sederhana yang hangat, meski harus bergelut dengan kemiskinan.Hampir sepuluh tahun mereka berteman, hingga sebuah buku mengubah segalanya.Apa yang semula mereka anggap sebagai pelarian, perlahan menjelma menjadi jebakan dan memaksa mereka bertahan hidup di dunia yang asing dan penuh bahaya.Akankah mereka tetap bersama hingga akhir?Ataukah pengkhianatan justru menanti di antara mereka?Mari beristirahat sejenak dan berkhayal di sebuah dunia yang tampak indah di permukaan, namun menyimpan banyak luka di dalamnya.

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.