Cita, Cinta, Matcha
READING AGE 16+
Lyra Kalista tak menyangka, popularitas itu datang begitu cepat padanya di usianya yang masih belia. Hidupnya berubah. Segala kemudahan dan fasilitas terbaik bisa ia dapatkan dimana saja tanpa campur tangan orang tuanya.
Ia menjadi selebgram dengan tarif fantastis berkat wajah cantiknya. Tapi tak hanya itu yang menjadi daya tarik Lyra. Kemampuannya menjadi story teller, dan hobi travelingnya membuat Lyra semakin digilai penggemarnya.
Tapi ayahnya yang keras melihatnya berbeda. Segala bahaya yang dilihat orang tua dalam pergaulan Lyra membuatnya memutuskan mengirim putri mereka pada Eyang putrinya yang keras di Jogja.
*
Refandika Surya tak menduga keisengannya dengan kamera ponselnya akan membawanya pada sosok cantik yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Dunianya berubah. Segala ketenangan hidupnya tiba-tiba lenyap.
Mengenal Lyra, membuat Refan memiliki kesibukan baru sekarang. Menjadi videografer. Kedengarannya keren. Tapi ia jengah melihat segala kepalsuan yang dipamerkan.
Perempuan itu, Lyra memang cantik. Tapi apa yang ditampilkan di sosial medianya berbeda jauh dengan Lyra yang sesungguhnya. Munafik. Begitu menurut Refan.
*
Hingga suatu hari, mereka terjebak dalam situasi yang tak mereka rencanakan. Nenek Lyra yang mendapati cucu perempuannya dekat dengan laki-laki memaksa mereka berdua untuk segera dinikahkan saja sebelum terjadi hal yang tak diinginkan. Lyra menolak keras. Begitu juga Refan.
Mereka tak memiliki ketertarikan satu sama lain. Kecuali sekedar hubungan profesional. Tapi ketika waktu membuat mereka terbiasa bersama, benih-benih cinta pun bisa saja tumbuh karena terbiasa. Apalagi para orang tua sudah saling menyetujui. Lalu, masihkah Lyra dan Refan mengingkari perasaan mereka dengan alasan mereka masih memiliki mimpi yang harus dicapai masing-masing?
***
Unfold
Refan duduk di samping Lyra yang menguasai buku menu. Sementara kedua orang tua Lyra duduk di depan mereka.
“Lyra, Refan ditanya dulu pingin pesan apa?” Mama mengingatkan.
“Lyra tahu kok Refan seringnya pesan apa,” jawab Lyra.
“Lyra,” Mama kembali menegur putrinya.
Lyra tersenyum, kemudian melirik Refan sembari menunju……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……