Kuntilanak Peliharaan Pakde
READING AGE 16+
Aku terbangun tepat jam 2 malam karena suara berisik klakson mobil pakde yang terus berbunyi nyaring. Kukucek mata beberapa kali sambil beringsut duduk dan keluar kamar. Aku membuka hordeng ruang keluarga dan mencoba mengintip keluar. Lampu di mobil pakde menyala, hanya saja tak ada siapapun di sana.
'Sepertinya ada yang konslet dengan kabalnya.' pikirku.
Lalu saat akan berbalik sudah ada Pakde di belakangku.
"Ya ampun, Pakde. Ngagetin." Kataku sambil memegang d**a.
"Liat apa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Suara berisik dari luar. Sepertinya mobil pakde ada konslet kabelnya."
"Oh ya, coba kamu perhatikan baik-baik."
Aku berbalik lagi ke arah jendela dan membuka hordengnya masih tak terlihat apa-apa.
"Nggak ada apa-apa Pakde," kataku masih memperhatikan ke arah luar.
Tiba-tiba tangan Pakde meraba keningku cukup lama, dia juga terdengar seperti mengucap sebuah mantra.
"Coba perhatikan sekali lagi."
Mataku yang sejak tadi ke arah atas karena melihat tangan Pakde yang tiba-tiba menyentuh kening, kini kembali fokus ke mobil. Dan alangkah terkejutnya aku melihat seorang wanita berambut panjang, berbaju putih tertawa-tawa memainkan klakson mobil dengan riang gembira. Tubuhnya sampai terpelanting ke sana kemari karena tertawa terbahak-bahak.
Unfold
Bulu kudukku berdiri semua. Ini pertama kalinya aku melihat kuntilanak. Dia tertawa tawa dengan tubuh yang terus saja terpelanting kesana-kemari. Setiap habis tekan klakson tubuhnya langsung terpelanting, tertawa dengan suara nyaring. Ingin aku berteriak, tapi lidahku kelu. Kaki sudah gemetaran.
“Sekarang kau bisa melihatnya?”
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……