Graduation Trip: Europe Diaries
READING AGE 16+
Setelah wisuda SMA, Maia Anastasia, Erika Deyandra, dan Janet Evania mewujudkan impian yang telah mereka simpan selama bertahun-tahun: menjelajahi Eropa bersama sebelum mengejar masa depan masing-masing. Mereka mengira perjalanan itu hanya akan dipenuhi pemandangan indah, makanan lezat, dan foto-foto yang layak diunggah ke media sosial.
Mereka salah besar.
Di balik setiap kota, petualangan tak terduga justru berubah menjadi ujian hidup yang nyata. Dari kartu kredit yang diblokir di Paris, terjebak dalam jebakan sindikat kriminal, hingga tanpa sengaja diselamatkan oleh Pangeran Adrien dari Monaco, perjalanan mereka bergeser dari liburan backpacker menjadi pertarungan untuk bertahan hidup. Namun, ancaman terbesar ternyata bukan hanya datang dari penjahat bersenjata.
Ketika mereka bertemu dengan keluarga Ahlefeldt—tiga bangsawan muda dari Denmark yang merupakan sahabat masa kecil Adrien—dunia mereka berbenturan dengan keras. Axel, sang penyelamat dingin yang diam-diam melindungi Putri Charlotte; Valdemar, si kembar ceria yang tertarik pada ketajaman pikiran Maia; dan Astrid, kakak perempuan yang anggun namun memandang mereka sebagai noda kampungan di dunia elit. Di tengah kemewahan chalet Alpen dan istana kerajaan, trio gadis harus menghadapi ejekan kelas sosial yang lebih menyakitkan daripada peluru, sekaligus menemukan keberanian untuk membela harga diri mereka sendiri.
Tak ada yang menyangka, perjalanan keliling Eropa ini bukan hanya mengubah cara mereka memandang dunia, tetapi juga memaksa mereka mendefinisikan ulang siapa diri mereka di hadapan tembok arogansi yang tak terlihat. Karena terkadang, perjalanan terbaik bukanlah tentang tempat yang didatangi atau gelar yang ditemui, melainkan tentang seberapa kuat persahabatan dan integritas saat akhirnya pulang nanti.
Unfold
Suara halaman kertas yang dibalik terdengar pelan di ruang tamu safe house yang sunyi. Adrien duduk di sofa yang sama sejak semalam, buku harian Putri Anastasia terbuka di pangkuannya. Cangkir kopi di meja sampingnya sudah dingin, permukaannya mengkilap dengan sisa-sisa uap yang lama menghilang. Matanya merah, tapi tidak ada kantuk di wajahnya. ……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……