Menikah Tanpa Cinta, Mencintai Tanpa Syarat
READING AGE 16+
"Dua tahun. Tanda tangan ini menyelamatkan keluargamu, tapi jangan pernah berharap aku akan mencintaimu." — itulah janji dingin Dika di hari pernikahan mereka. Sari menerima perjanjian itu demi menyelamatkan ayahnya dari kebangkrutan, tak menyadari bahwa hidupnya akan menjadi medan perang: mertua menekan tiada henti menuntut cucu dan keturunan, rekan kerja Dika menjebaknya di kantor, teman-teman pria itu memandangnya rendah, sementara mantan kekasih Dika kembali hadir dan membuat Sari terbakar cemburu. Dika sering diam saja, tak membelanya, menimbulkan luka demi luka. Namun di tengah badai, hati yang beku perlahan mencair — Dika mulai melihat ketulusan Sari, jatuh cinta tanpa sadar, dan akhirnya luluh sepenuhnya. Ia berlutut memohon maaf, berjanji tak akan melepaskan Sari lagi. Tekanan mertua yang dulu menyakitkan kini berubah menjadi kebahagiaan saat mereka akhirnya menyambut cucu yang didambakan. Apakah pernikahan yang dimulai tanpa cinta bisa berakhir dengan kebahagiaan abadi? Apakah hati yang pernah terluka benar-benar bisa menyatu dan membangun keluarga yang utuh? Ya — karena cinta sejati tak butuh perjanjian, dan kebahagiaan mereka akhirnya mekar bersama tangisan buah hati di pelukan hangat kakek dan neneknya.
Unfold
💍 BAHAGIA SELAMANYA — TAMAT
Bertahun-tahun kemudian. Rambut mereka mulai memutih, wajah mulai terukir garis halus di sudut mata dan dahi. Namun tatapan satu sama lain tak pernah berubah — tetap hangat, tetap penuh rasa syukur, tetap seperti hari pertama mereka memutuskan untuk saling mencintai.
Mereka duduk berdamping……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……