andai aku mengerti
Reads
Retaknya sebuah rumah
Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota kecil, hiduplah sebuah keluarga yang awalnya tampak begitu harmonis. Ayah dan ibu selalu terlihat akur, saling melengkapi, seakan dunia di sekitar mereka hanyalah pelengkap dari kebahagiaan kecil yang mereka rajut. Di rumah itu pula, dua anak tumbuh dengan penuh kasih: Antariksa Al Vero, si sulung yang baru menginjak usia remaja, dan adiknya, Orlin Adiba Shakila yang akrab dipanggil Odi, seorang bocah kecil penuh keceriaan.
Hari-hari awal kehidupan mereka dipenuhi tawa. Odi selalu berlari-lari kecil di halaman rumah, mengejar kupu-kupu atau sekadar mengganggu kakaknya yang sibuk membaca buku di beranda. Antariksa, meski kadang kesal karena diganggu, selalu menahan diri. Ia tahu, sebagai kakak, tugasnya adalah menjaga.
“Aaah, Odi! Jangan tarik bukuku, dong,” seru Antariksa sambil merenggut kembali buku yang ditarik adiknya.
Odi tertawa cekikikan. “Kakak baca terus, Odi bosan. Main sama Odi, ya!”
Antariksa mendesah, menutup bukunya, lalu menggelitik perut adiknya sampai tawa pecah memenuhi udara sore.
Ayah mereka akan pulang membawa buah tangan kecil, sementara ibu menyiapkan makanan hangat. Kehangatan itu seperti benteng yang melindungi mereka dari segala hal buruk di luar sana.
Namun, kebahagiaan seringkali rapuh. Retakan kecil yang tak terlihat akhirnya menjadi jurang yang tak bisa dijembatani. Pertengkaran mulai muncul di antara ayah dan ibu. Awalnya hanya perdebatan kecil tentang uang belanja, tentang pekerjaan ayah yang semakin menyita waktu, atau tentang sikap ibu yang dianggap terlalu keras pada anak-anak.
Malam demi malam, suara bentakan menggantikan nyanyian pengantar tidur. Piring pecah, pintu dibanting, hingga tangis Odi yang selalu bersembunyi di balik punggung Antariksa.
“Kak… kenapa ayah sama ibu marah terus?” tanya Odi dengan suara bergetar suatu malam.
Antariksa yang masih belia tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya meraih bahu adiknya, menepuk-nepuk dengan lembut. “Tenang, Di. Kakak ada di sini. Jangan takut.”
Beberapa bulan setelah itu, keputusan pahit pun jatuh: perceraian.
Ayah memilih membawa Antariksa dan Odi tinggal bersamanya. Sementara ibu… memilih jalannya sendiri.
Bagi Antariksa, keputusan itu bagai kilat yang menyambar. Ia tahu ayah berusaha tegar, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Odi, yang masih kecil, hanya tahu satu hal: ibunya tak lagi pulang.
Hari-hari baru pun dimulai. Ayah berusaha mengisi kekosongan itu. Ia memasak seadanya, mencuci pakaian dengan tangan kasar yang biasa memegang alat pertukangan, dan memastikan kedua anaknya tetap bisa sekolah.
Antariksa, meski masih remaja, ikut menanggung beban. Seusai sekolah, ia mencari pekerjaan sambilan: mengantar koran, membantu di warung tetangga, bahkan kadang memulung barang bekas. Semua dilakukannya demi satu hal: agar Odi bisa tetap tersenyum, bisa tetap sekolah tanpa merasa kekurangan.
“Aku janji, Di,” bisik Antariksa pada adiknya suatu malam ketika listrik padam. “Apa pun yang terjadi, kakak bakal jaga kamu. Kita kuat bareng-bareng.”
Odi menatap kakaknya dengan mata polosnya. Ia percaya, sepenuh hati.
Namun takdir seolah tak puas merenggut kebahagiaan mereka. Setelah bertahun-tahun berjuang, ayah mulai sering batuk-batuk. Tubuhnya melemah. Antariksa yang menyadari perubahan itu mencoba menutupi dari Odi. Tapi penyakit itu semakin parah, hingga suatu hari ayah jatuh pingsan di rumah.
Rumah sakit menjadi saksi perjuangan terakhir seorang ayah. Antariksa berlari pontang-panting mencari pinjaman untuk biaya berobat. Ia mengorbankan sekolahnya, memilih bekerja lebih keras, sementara Odi hanya bisa menangis di samping ranjang ayah.
“Ris… jaga adikmu, ya…” suara ayah terdengar lirih, hampir tak terdengar. Antariksa menggenggam tangan ayahnya erat-erat, air mata jatuh tanpa bisa dibendung.
“Iya, Yah… Antariksa janji. Aku bakal jaga Odi sampai kapan pun.”
Beberapa hari setelah itu, ayah mereka pergi untuk selamanya.
Dunia Antariksa runtuh. Ia harus segera dewasa, secepat kilat, karena tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya. Tapi anehnya, setelah pemakaman, Antariksa justru menghilang. Ia pergi tanpa pamit pada Odi, meninggalkan hanya sehelai surat pendek yang kusut:
“Odi, maafkan Kakak. Suatu hari nanti kamu akan mengerti. Kakak pergi bukan karena tak sayang. Kakak pergi karena ingin kamu punya hidup yang lebih baik. Jangan takut. Kakak akan selalu ada, meski kamu tak melihat.”
Odi membaca surat itu berulang-ulang, setiap malam sebelum tidur. Tangisnya tak pernah habis. Ia merasa kehilangan dua kali: ayahnya yang meninggal, dan kakaknya yang tiba-tiba lenyap.
Hari-hari setelahnya, Odi hanya bisa bertahan dengan sisa kekuatan yang ada. Ia berusaha percaya bahwa kakaknya tidak benar-benar meninggalkannya, meski bayangan ragu selalu menghantui.
Malam-malam panjang ia lalui sendiri, menatap langit penuh bintang. Dalam kesunyian, ia selalu berbisik l
irih:
“Kak Antariksa… kamu di mana?
Updated at