DHASKALOM
Reads
Ketika armagedon telah usai
kalian akan bingung siapa mereka yang agung
ketauhilah!
Dia tidak memakai mahkota
dia tidak memiliki singgasana
tapi semua ada di tangannya
2 pencipta telah mati
2 penjaga telah pergi
6 anak sisa dua tapi hidup sendiri
tanyakan pada orang utara siapa musuh yang tinggal di atas gunung
tanyakan pada orang selatan siapa yang akan datang di lereng gunung
tanyakan pada orang barat dan timur siapa yang pantas memimpin menaiki gunung
satu anak gila adalah kesatria
anak tertua bisa berkuasa tanpa senjata
orang langit jika tahu sangatlah murka
Kitab Dhasta telah lama hilang, terkubur oleh waktu dan sejarah yang tak terkatakan. Lembar terakhirnya memuat ramalan yang menggambarkan takdir dunia setelah sang pencipta Dhasta dan Kawahya tiada. Di mana keberadaan buku itu kini, tak seorang pun tahu. Semua kekacauan dimulai sejak perang terbesar dalam sejarah Dhaskalom Perang 6 Anak, yang dikenal pula dengan nama Perang Safnurat.
Walau peristiwa itu telah berlalu lebih dari seratus tahun, jejak kehancurannya masih membekas, menghantui setiap sudut tanah Dhastangger. Mereka yang selamat, terpaksa hidup dalam persembunyian, tersebar di wilayah-wilayah kecil yang terlindung oleh benteng-benteng kokoh. Sekarang dunia tertutup oleh kegelapan yang dibawa dua ras terkutuk Gorin dan Aluzelian.
Azalian, Flovorian, Brasatian, dan Catussian ras yang tersisa dari Dhastangger terus berjuang membangun kembali peradaban mereka dari puing-puing kehancuran, sementara Azalian menghilang entah kemana. Namun, bukannya bersatu, mereka justru terpecah, saling bermusuhan demi memperebutkan apa yang tersisa: sumber daya yang amat berharga, yaitu sihir.
Sihir, yang kini menjadi barang yang sangat langka dan tak ternilai harganya, adalah alat yang menguasai dan memanipulasi alam melalui kekuatan mistis. Segala sesuatu yang berhubungan dengannya, baik itu benda maupun makhluk, menjadi aset yang sangat diburu setiap negara. Pengetahuan tentang sihir tak diperoleh melalui logika, melainkan melalui intuisi, pemahaman yang mendalam akan alam dan kekuatannya. Di antara kerajaan Atiria dan federasi Brasatia, seorang Hikshopistes dari bangsa Catus bernama Sken-ho menciptakan teknik yang revolusioner, menggabungkan energi alam dengan pepohonan di hutan. Dengan teknik itu, sang pengguna bisa memanfaatkan kekuatan hutan, mulai dari perlindungan hingga penyerangan. Namun, bukannya bersatu untuk menjaga penemuan itu, kedua negara adidaya itu justru terjebak dalam ambisi untuk menguasainya demi kepentingan mereka sendiri.
Kecewa oleh pengkhianatan itu, Sken-ho melarikan diri, bersembunyi dalam bayang-bayang. Kedua negara adidaya itu, yang sebelumnya mengejar dirinya, kini hanya mencari satu hal: jantung hutan sihir yang ia ciptakan. Dan cara mereka yang dianggap paling efisien untuk mendapatkannya adalah dengan ekspansi, menjelajah lebih jauh ke dalam hutan yang dahulu mereka anggap sakral.
Agas, yang saat itu masih kecil, kini tinggal di desa Skenhodoy, sebuah desa strategis yang terletak di antara wilayah konflik. Desa ini menjadi satu-satunya titik utama yang memungkinkan Brasat bertahan dan tetap terhubung dengan ibu kota Shodalvat.
Updated at